Skip to main content

Dunia yang Terbalik

Dunia seperti terbalik semenjak aku sakit satu bulan lalu. “Ada yang hilang dari Mbak Yus,” begitu kata Prahay, magang content writer di Yayasan TurunTangan, tempatku bekerja. Lalu aku menjelaskan kronologinya.

September, aku sangat bersemangat sekali mencari informasi tentang Jepang. Aku menyampaikan keinginan dan maksudku ke Jepang pada rekan-rekan kerjaku di kantor. Beberapa kali bahkan aku bercanda soal rencanaku ini. Hingga semuanya berubah, ketika aku mendapatkan informasi jika masa berlaku pasporku kurang dari 6 bulan. “Kamu tidak bisa apply visa dan harus membuat paspor baru,” ujar Mbak Esty.

Mbak Esty, tanpa sepengatahuanku, ia membantu mengecek jadwal pembuatan paspor Jakarta yang sejak Agustus menggunakan sistem online. “Yus … kamu enggak bisa bikin paspor. Semuanya penuh sampai 22 September,” katanya. Aku syok dan menyampaikan tentang ini kepada temanku, Yessi. Dia yang akan menjadi teman perjalananku di Jepang nanti. Pun dengan Karin yang nantinya, akan menyambutku di Jepang dan apartemennya aku inapi.

“Pakai calo saja,” kata Yessi. Aku tak mau. Anti dengan percaloan seperti itu. “Dosa!” itu yang aku yakini. Aku pun mencari tahu tentang pembuatan paspor non online di Indonesia. Setelah berselancar di dunia maya sekian jam, aku pun menentukan pilihan untuk membuat paspor di Lampung. Sekalian pulang kampung. Aku ingin menengok ibu dan bapakku. Dan yang paling penting adalah aku rindu dengan keponakan-keponakanku.

Aku kembali ke Lampung dengan lancar. Pun membuat paspor. Tidak ada hambatan. Aku memutuskan untuk segera kembali ke Jakarta menggunakan bus damri sebab ada pekerjaan yang mesti aku kerjakan di kantor. Aku tak mau membolos meski harus datang malam. Dan senin itu, aku tiba di Jakarta dan memutuskan untuk menginap di kantor.

Lima hari kemudian, aku kembali memutuskan kembali ke Lampung menggunakan pesawat terbang untuk mengambil paspor sekalian SKCK dari kepolisian yang telah ibu dan bapakku buatkan. Selama perjalanan, aku tak makan sama sekali. Hingga aku memutuskan makan di malam harinya, ketika sedang menunggu bapak dan ibu menjemputku. Aku sampai di rumah malam hari. Di kamar, aku iseng ingin melihat berkas-berkasku di lemari. Betapa kagetnya, beberapa dokumenku berceceran. Sementara ijazah dan transkripku hilang tak tahu di mana. Aku marah sekali saat itu. Tak ada satupun orang yang mau disalahkan di rumah. Justru mereka menyalahkanku. Duniaku seperti hancur, “bagaimana nasib masa depanku?”

Tadinya aku berencana menginap di rumah Yessi minggu malam. Tapi aku memutuskan ke Bandar Lampung senin pagi bersama kakak. Karena aku harus mencari ijazah dan transkripku yang hilang. Tak ketemu juga. Padahal kakak, ibu dan bapak sudah berusaha membantu mencari. “Sudahlah visa saja dulu, urusan ijazah nanti setelah urusan ini selesai,” batinku. Aku menuju Bandar Lampung dengan lapang dada.

Tiba di imigrasi Bandar Lampung, aku bertemu dengan sepasang suami istri yang akan ke Singapura. Sebelumnya, pada saat membuat paspor aku juga bertemu dengan mereka dan mengobrol panjang lebar. Di kantor imigrasi petugas memanggil namaku. Berkas-berkas pasporku diserahkan oleh anak-anak SMA yang sedang PKL. Paspor baruku pun mereka serahkan.

Seperti senin lalu, pagi jam 10 aku kembali ke Jakarta menggunakan bus damri. Aku menuju kantor terlebih dahulu kembali ke kostn lalu ke apartemen Mbak Esty. Aku perlu arahan dari Mbak Esty. “Besok deh ya aku bikinin surat keterangan kerjanya di kantor. Nanti kamu langsung ngajuin visa aja,” nasihat Mbak Esty. Aku mengangguk.

Paginya aku ke kantor Mbak Esty. Disuruhnya menunggu di mini market tak jauh dari kantornya. Pukul 11.00 dia menemuiku, menyerahkan beberapa berkas. “Makasih mbak. Aku minta bantuan temenmu nih buat ngajuin visa. Kalo aku sendiri takutnya visanya nggak keluar,” ujarku.

Pukul 12 aku tiba di travel yang berlokasi di Melawai, Blok M. “Mbak … paspor lamanya mana?” “Yah di imigrasi mbak.” “Waduh paspor lama harus dilampirkan. Kalo enggak visa mbak enggak bisa keluar.” “Jadi gimana mbak.” “Mau enggak mau mbak ambil paspor lama mbak di Lampung.” Enggak mungkin dilakukan. Aku saja baru tiba di Lampung kemarin. Bisa hancur badanku.

Aku menceritakan masalah itu kepada Yessi. Dia berjanji akan membantuku. Aku cukup tenang. Namun, beberapa jam kemudian dia mengatakan tak bisa membantu dengan berbagai alasan dan mengirimkan OB-nya yang mengambil paspor. Seperti yang ku kira sudah pasti ditolak! Aku marah.

“Yus .. kamu bisa enggak ke Lampung aja. Aku bayarin tiket pesawatnya separo.” “Enggak bisa Yes … aku mending ikhlasin tiketnya, daripada badanku hancur.” “Oh atau kita undur saja ke Jepangnya.” “Tidak mungkin … kita akan membuang uang lagi.”

Aku kemudian menghubungi teman-temanku yang lain. Ada dua orang yang bisa membantu. Uoh dan Mbak Atika. “Kenapa nggak dari kemarin kamu minta bantuanku. Aku punya kenalan di imigrasi. Setiap mengurus paspor aku dibantu olehnya,” jelas Mbak Atika. Besoknya, paspor dititipkan ke Damri dan tanpa biaya sepeserpun. “Oiya biasanya mamak juga menitipkan dokumen di damri,” ujar ibuku. “OMG bu … kenapa tak bicara sejak kemarin. Jadi aku tak perlu pulang mengambil SKCK ke kampung. Capek!” batinku.

Setiap hari aku berdoa kepada Allah, untuk memberiku kesempatan buat ke Jepang. That’s my dream.

Aku berusaha melupakan tentang visaku dan mengisi waktu dengan berbagai kegiatan. Salah satunya meliput kegiatan TurunTangan Banten. Aku memutuskan menginap dan mengajak Aqsa, magang videografer. Di perjalanan menuju lokasi pelatihan Akademi Relawan TurunTangan Banten di Parung, aku mendapatkan kabar, berhak mengikuti seleksi Kementerian Perindustrian tahap 2. Minggu pukul 10 aku harus tiba di JCC untuk liputan. Maka minggu pagi aku ke JCC dari Parung. Itu sangat melelahkan sekali.

Selasa aku mendapatkan kabar visaku keluar. Rabu aku harus mengikuti seleksi wawancara Kementerian Perindustrian. Sehingga visa baru ku ambil Kamis, H-1 menjelang keberangkatan. Saat mengikuti seleksi wawancara di Kementerian Perindustrian aku mendapatkan makan siang yang cukup pedas. Aku pun sampai di kantor dengan terkentut-kentut. Perutku kembung sekali. Sejak itulah aku mulai merasakan nyeri di perut kiriku. Namun ku abaikan.

Hari Kamis, atasanku menyuruh karyawannya untuk meeting di kediaman Bapak Anies Baswedan. Sebelumnya kami makan siang dulu di restoran tak jauh dari rumah Bapak Anies. Perutku baik-baik saja, meski nyeriku rasakan beberapa kali dan ku abaikan lagi. Pukul 4 sore, aku berencana ke blok M. Adit sudah menungguku di sana. Beberapa belakangan aku dan Adit seringkali berkomunikasi. Rupanya jalanan macet sekali, sehingga baru tiba di Blok M pukul 5 dan aku segera mengambil visa dan menukar uang di Money Changer. “Adit loe di mana?” “Maaf, gue ngojek. Tadi pas gue mau nelpon loe malah dapet orderan.” “Yah dit, terus kopi loe.” “Ya udah kapan-kapan aja.”

Kamis itu aku baru pulang ke kostn jam 10 malam. Perjalanan pulang dari Blok M ke kostn memakan waktu 2 jam. Aku langsung packing dan baru selesai pukul 12. Sementara pukul 3 pagi harus ke bandara. Aku hanya tidur 3 jam. Sawki yang membangunkanku.

Yessi sudah menungguku. Dia terus bertanya. “Sudah sampai mana?” “Iya ini di jalan. Sabar ya.” Dan jam 4 pagi aku sampai kemudian langsung mengantri. Sistem check in Air Asia pagi itu mengalami gangguan. Antrian mengular. Deg degan karena pesawat boarding pukul 5 dan Yessi belum check in online. “Kepada seluruh penumpang Air Asia, Jakarta – Kuala Lumpur diharapkan naik ke pesawat. Terima kasih.” Begitu woro-woro dari Air Asia yang aku dengar. Kami pun panik. Petugas lalu mendahulukan semua penumpang menuju Kuala Lumpur terlebih dahulu. Pukul 7 pagi kami pun terbang ke Kuala Lumpur dan Pukul 12 malam kami tiba di Jepang. Kami baru mendapat bus jam 1 pagi. Tiba di rumah Karin jam 2 malam. Jepang saat itu hujan deras dengan suhu 16 derajat celcius. Aku dan Yessi langsung tidur dengan kedinginan. Keesokan harinya pukul 10 pagi, kami pun memulai perjalanan.

Jepang adalah negara yang sangat mahal menurutku. Jalan-jalan di dalam kota saja, kami bisa menghabiskan 100 ribu per harinya. Jika ke luar kota sampai 600 ribu pulang pergi. Contohnya waktu ke Ibaraki dan Kawaguchiko. Saat itu nyeri perut selalu ku rasakan, walau intensitasnya tak terlalu sering.

Aku terus mengecek perutku. Adakah benjolan. Aku parno dengan Kanker Payudara. Aku pun merasa ada bejolan di bawah payudaraku. Saat pulang ke Indonesia, nyeri itu semakin hebat. Bahkan aku merasakan nyeri punggung, bahu dan tangan. Aku menelpon ibuku. “Aku mau dapet. Biasanya semenderita ini memang,” ujarku. “Ya sudah ditunggu saja. Mungkin memang karena kamu mau haid,” balas ibu. “Tapi benjolanku?”
Aku kemudian berani memeriksakan diri ke Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI). Sebelumnya aku mengeluh kepada Vinda dan Puji soal penyakitku ini. Weekend itu aku tak keluar dari kostn dan hanya menangis. Vinda janji menemaniku ke rumah sakit.

“Vinda… aku udah daftar di RSPI. Jadi ya nemenin?” “Jam berapa mbak?” “Jam 7 malam.” “Waduh malem banget. Enggak bisa mbak. Maaf ya.” Aku kemudian meminta tolong Mia. “Enggak janji mbak. Aku baru mau meeting. Nanti aku kabari.” Aku pun meminta tolong Erik, adikku. “Masa aku sih mbak. Sama temenmu aja!” Dengan berbagai alasan itulah aku merasa sendiri. Aku merasa tak punya teman. Padahal aku butuh dukungan. Aku sedih dan menangis di sepanjang jalan.

Sampai di RSPI aku tak henti-hentinya menangis. Aku takut ketika masuk ke ruang radiologi. Dokter onkologi bilang, kalau penyakitku adalah lipoma. Tak berbahaya. Namun sewaktu diperiksa oleh dokter USG, tak ada benjolan apa-apa. Rupanya itu tulang iga dan otot. Aku menceritakan ini kepada keluarga dan teman. Alhamdulillah berarti memang enggak ada apa-apa. “Jangan seneng dulu Yus. Cari Rumah Sakit lain. RSPI bilang enggak ada apa-apa tapi sebenarnya ada apa-apa,” saran Kiki, via whatsapp.

Aku kemudian berencana untuk ke rumah sakit lain. Tapi aku terus takut dan mencari teman. Aku pun menunda-nunda. Sementara setiap hari aku selalu membaca artikel kesehatan. Dan itu semakin membuatku parno. Alhamdulillah setelah dua minggu kemudian, Erik mau menemaniku. Aku pun pergi ke Rumah Sakit Mayapada. Di sana aku bertemu dengan dr. Nirmala. “Kamu punya riwayat apa?” “Bronkitis.” Menghadap ke depan. dr. Nirmala mengecek dada belakangku. “Lah ini lipoma kamu ada di punggung,” dr. Nirmala sembari tertawa. “Lipoma gampang, nanti saya usulkan ke dokter bedah. Tapi kamu harus di CT Scan ya. Kamu pakai asuransi atau biaya sendiri.” “Sendiri dokter.” “Nggak punya asuransi?” “Punya tapi rawat inap.” “Ya sudah kamu rawat inap hari ini.” “Hari ini nggak bisa dok. Karena saya harus bicara dengan keluarga dan orang kantor.” “Ya sudah kalau begitu besok. Tapi jangan jum’at. Takut libur.” Kemudian dr. Nirmala memberiku obat, namanya Lacid, obat nyeri perut bagian atas.

Aku tak bicara soal keluhanku di bahu, punggung dan tangan serta panas di payudara. Dan aku semakin gelisah ketika menginap di rumah Mbak Aida. “Baiklah aku harus pergi ke Siloam besok. Harus berani. Kalau nggak aku stress.”
Besoknya aku ke Siloam. Ditemani oleh Vinda. Aku menceritakan semua keluhanku kepada dokter umum. “Gimana dokter, apakah ada benjolan?” “Ada,” katanya. Duar, aku takut sekali. “Di USG dulu ya, kamu pakai asuransi atau bagaimana.” “Biaya sendiri.” “Mau di USG?” “Mau,” ujarku. Aku menuju ruang USG dan alhamdulillah tidak ditemukan tumor dan kanker di Payudaraku. Tapi kenapa bahuku nyeri sekali. Akibat Lipoma kah?

Selama dua hari aku meminum obat yang diberi oleh dr. Nirmala. Kondisiku membaik. Tapi aku sangat takut dengan benjolan di belakang punggungku. Apalagi bahu, lengan dan punggungku pegal serta panas, tertekan. Senin, aku meminta Erik menemaniku untuk rawat inap. Di sana aku diperiksa dan diberi obat. Aku tak pernah mengeluh mengenai sakit bahuku kepada dokter. Aku mengira itu akibat tekanan saraf dari Lipoma. Aku tahu Lipoma, ini adalah tumor jinak yang tak berbahaya. Tapi bisa juga berbahaya jika menimbulkan rasa sakit dan cirinya lengket di daging.

Nyeri perutku tak ku rasakan lagi. Tapi aku terus mual dan sendawa. Aku meminta dr. Nirmala untuk segera mempertemukanku dengan dokter bedah. Ia pun menurutinya. Keesokan harinya, aku ditengok oleh dokter bedah. “Oh ini Lipoma. Kalau pertanyaannya bahaya atau tidak. Jawabannya adalah tidak. Tapi karena dia terdiri atas otot dan syaraf makanya sakit,” begitu penjelasan dokter Oggy. “Apakah kamu siap untuk operasi besok?” “Siap dok.” “Baik besok kita operasi ya jam 8 malam.” Aku tak sabar menunggu operasi. Mengeluarkan benjolan itu dan terbebas dari rasa sakit bahu dan lengan. Operasi dimulai, tentu tak berasa namun setelah itu aku mual dan pusing. Aku tak mau di operasi lagi. Enggak enak!

Pasca operasi, aku pikir semua akan membaik. Rupanya sekarang ini bahuku sakit dan panas. Hingga telingaku. Aku terpancing membaca informasi di internet. “Bahu, punggung, dan lengan sakit panas hingga telinga, bisa saja diakibatkan oleh kanker yang sudah menyebar.” Duar …. Aku harus positive thinking. Aku sehat. Aku sehat dan akan hidup panjang serta menikah dan punya anak. Jika tidak, maka semoga penyakitku menjadi penggugur dosa dan syurga adalah gantinya. “Sejatinya setiap orang akan meninggal dunia. Masih syukur dikasih sakit, jadi dikasih kesempatan untuk perbaiki ibadah. Aku mencoba untuk ikhlas dan sabar Mas Angger. Mohon doanya,” pesanku kepada Mas Angger via whatsapp.

Semoga semua akan baik-baik saja dan sesuai yang kuinginkan. Aamiin



Comments

Popular posts from this blog

Pelajaran Usai Tersesat di Timur Bali

Januari 2015, saya diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menjejaki Pulau Bali. Waktu itu, saya mendadak melakukan perjalanan sendirian. Ketika sudah lelah merasakan hiruk pikuknya dunia malam di Kuta, saya mencoba mencari ketenangan pagi di Pantai Sanur. Saya pilih Pantai Sanur, karena berdasarkan informasi yang saya baca di internet, pantai ini merupakan tempat terbaik untuk melihat matahari terbit di Pulau Bali. Itu sudah menjadi rahasia umum, maka tak heran Pantai Sanur menjadi destinasi favorit bagi pemburu matahari terbit dari seluruh dunia. Lokasi Pantai Sanur ada di sebelah timur Bali. Tidak terlalu jauh dari Kuta. Waktu tempuhnya hanya 30 menit. Jadi intinya harus bangun pagi kalau tidak mau ketinggalan pemandangan matahari terbit. Sebelum tidur saya telah memasang alarm pukul 4.30 dan berkat deringnya, saya berhasil bangun pagi. Saya menginap di Jalan Poppies 2 Kuta. Sehari sebelum memutuskan menginap di tempat berkumpulnya para pelancong itu, saya menyewa moto...

Fenomena Gitasav

Akhir-akhir ini gue lagi ketagihan nonton vlog (video blog) Gita Savitri Putri. Itu lho orang Indonesia yang kuliah di Jerman. Gue suka karena ketika gue nonton vlog dia banyak pelajaran yang gue dapet. Daripada gue nonton vlog Awkarin yang nggak jelas itu, iya kan? Dari vlog gue sekarang merambah ke instagram dan blognya Gita. Kalo instagramnya sih isinya cuma foto-foto dia yang lagi jalan-jalan, makanan dan OOTD (Outfit of the day). Secara Gita sekarang makin terkenal gitu karena karya-karyanya dan cantik juga sih. Beda banget nih sama blognya. Isinya curhatan tapi di ending curhatan itu dia selalu kasih motivasi dan pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman dia itu apa. Tulisannya juga jujur banget dan ngalir. But the way, kapan gue mulai akrab sama semua karya-karya Gita? Gue nggak tau kapan tepatnya, tapi yang jelas sebulan yang lalu. Waktu gue buka Facebook, ada temen gue yang update status dan dia posting link video Gita yang ngebahas tentang alasan pake jilbab. ...