Dunia seperti terbalik semenjak aku sakit satu bulan lalu. “Ada yang hilang dari Mbak Yus,” begitu kata Prahay, magang content writer di Yayasan TurunTangan, tempatku bekerja. Lalu aku menjelaskan kronologinya. September, aku sangat bersemangat sekali mencari informasi tentang Jepang. Aku menyampaikan keinginan dan maksudku ke Jepang pada rekan-rekan kerjaku di kantor. Beberapa kali bahkan aku bercanda soal rencanaku ini. Hingga semuanya berubah, ketika aku mendapatkan informasi jika masa berlaku pasporku kurang dari 6 bulan. “Kamu tidak bisa apply visa dan harus membuat paspor baru,” ujar Mbak Esty. Mbak Esty, tanpa sepengatahuanku, ia membantu mengecek jadwal pembuatan paspor Jakarta yang sejak Agustus menggunakan sistem online. “Yus … kamu enggak bisa bikin paspor. Semuanya penuh sampai 22 September,” katanya. Aku syok dan menyampaikan tentang ini kepada temanku, Yessi. Dia yang akan menjadi teman perjalananku di Jepang nanti. Pun dengan Karin yang nantinya, akan menyambut...
Januari 2015, saya diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menjejaki Pulau Bali. Waktu itu, saya mendadak melakukan perjalanan sendirian. Ketika sudah lelah merasakan hiruk pikuknya dunia malam di Kuta, saya mencoba mencari ketenangan pagi di Pantai Sanur. Saya pilih Pantai Sanur, karena berdasarkan informasi yang saya baca di internet, pantai ini merupakan tempat terbaik untuk melihat matahari terbit di Pulau Bali. Itu sudah menjadi rahasia umum, maka tak heran Pantai Sanur menjadi destinasi favorit bagi pemburu matahari terbit dari seluruh dunia. Lokasi Pantai Sanur ada di sebelah timur Bali. Tidak terlalu jauh dari Kuta. Waktu tempuhnya hanya 30 menit. Jadi intinya harus bangun pagi kalau tidak mau ketinggalan pemandangan matahari terbit. Sebelum tidur saya telah memasang alarm pukul 4.30 dan berkat deringnya, saya berhasil bangun pagi. Saya menginap di Jalan Poppies 2 Kuta. Sehari sebelum memutuskan menginap di tempat berkumpulnya para pelancong itu, saya menyewa moto...