Dunia seperti terbalik semenjak aku sakit satu bulan lalu. “Ada yang hilang dari Mbak Yus,” begitu kata Prahay, magang content writer di Yayasan TurunTangan, tempatku bekerja. Lalu aku menjelaskan kronologinya. September, aku sangat bersemangat sekali mencari informasi tentang Jepang. Aku menyampaikan keinginan dan maksudku ke Jepang pada rekan-rekan kerjaku di kantor. Beberapa kali bahkan aku bercanda soal rencanaku ini. Hingga semuanya berubah, ketika aku mendapatkan informasi jika masa berlaku pasporku kurang dari 6 bulan. “Kamu tidak bisa apply visa dan harus membuat paspor baru,” ujar Mbak Esty. Mbak Esty, tanpa sepengatahuanku, ia membantu mengecek jadwal pembuatan paspor Jakarta yang sejak Agustus menggunakan sistem online. “Yus … kamu enggak bisa bikin paspor. Semuanya penuh sampai 22 September,” katanya. Aku syok dan menyampaikan tentang ini kepada temanku, Yessi. Dia yang akan menjadi teman perjalananku di Jepang nanti. Pun dengan Karin yang nantinya, akan menyambut...